Remaja, Pandemi, dan Ruang Belajar Menuju Normal Baru

Penulis: Yayasan Kampung Halaman

Remaja menjadi kelompok yang rentan, terlebih saat pandemi. Berbagai kasus yang melibatkan remaja terus meningkat, baik kekerasan fisik, kekerasan seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, maupun sexual grooming. Kasus-kasus itu terjadi baik daring maupun luring. Khususnya saat pandemi, kasus berbasis daring semakin berlipat. Kondisi ini membuat Kampung Halaman bersiasat tentang program yang akan dilaksanakan. Mereka lebih dulu ingin mendengar remaja sebelum akhirnya melibatkan remaja dalam berbagai program.

Survei #remajadirumahaja merupakan yang paling awal dilakukan. Diikuti oleh 387 remaja laki-laki dan perempuan dari 18 provinsi. Beberapa temuan menggarisbawahi perihal kebosanan, peningkatan durasi pada aktivitas daring dan kebutuhan remaja untuk belajar kesehatan (termasuk kesehatan reproduksi dan psikologi). Selanjutnya, dilakukan pengamatan terhadap dinamika tantangan remaja, termasuk penerapan Tanggap Darurat Corona di Yogyakarta. Terakhir, menyiapkan ruang untuk remaja yang direncanakan luring.

Dari survei dan observasi di atas, Kampung Halaman melakukan dua hal. Pertama, ruang yang sedang disiapkan akan diperuntukkan sebagai tempat edukasi remaja terkait Covid-19 dengan benar dan tepat. Kebutuhan atas gaya hidup sehat diterjemahkan dalam bentuk ruangan-ruangan yang memungkinkan remaja berkegiatan secara kreatif dengan aman. Ruang ini nantinya akan menjadi bentuk dukungan Kampung Halaman yang memberikan opsi sistem pembelajaran kepada remaja. Kedua, merancang beragam program untuk menemani remaja seperti kampanye digital melalui media sosial, kelas interaktif jarak jauh, serta praktik-praktik pelibatan (sosmed challenge) yang dapat menyeimbangkan dunia online dan offline di masa Covid-19 ini.

Kampung Halaman membuat program yang bertujuan untuk mengasah empati dan kemampuan berpikir kritis remaja perempuan. Empati dan berpikir kritis adalah dua keterampilan yang sangat krusial dimiliki remaja, khususnya remaja perempuan mengingat temuan pada fenomena online grooming via permintaan PAP (post a picture) porno yang meningkat selama pandemi dan kekerasan gender berbasis online lain terjadi pada remaja, khususnya remaja perempuan di Indonesia.

Meski demikian, program-program tersebut akan berjalan dinamis sesuai perkembangan remaja, baik dari kebutuhan maupun cara mereka berinteraksi, termasuk respon atas isu sosial dan serta penggunaan teknologi. Pemutakhiran data dilakukan dengan selalu bertanya pada remaja sehingga dapat menghasilkan program inovatif.

Judul Buku: DEMOKRASI DAN PANDEMI
Bunga Rampai Pengetahuan Masyarakat Sipil di Indonesia
Diterbitkan oleh: Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara
ISBN 978-623-98039-0-2
© 2021. Dipublikasikan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC-BY-NC-SA 4.0).

Buku ini terbit atas inisiatif dan kerja sama yang telah dilakukan beberapa organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam CIVICA.

Bagikan:

Responses