Melawan Covid-19 di Negeri Seribu Masjid: Memupuk Masa Depan melalui Kebun Pangan

Penulis: Fadilla D. Putri dan Nurasiah Jamil Yayasan Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB)

Lombok dihantam bencana bertubi-tubi. Ketika luka dari gempa Agustus 2018 belum pulih benar, pandemic Covid-19 memukul pulau seribu masjid di Nusa Tenggara Barat tersebut. Perekonomian Lombok, terutama bagian utara yang sangat bergantung pada sektor pariwisata, jasa, dan sektor-sektor informal lainnya, menjadi sangat terdampak. Ini juga berujung pada meningkatnya angka perkawinan anak. Pandemi juga memaksa belajar secara daring dan menjadi persoalan tersendiri bagi orang tua dan anak. Sebuah organisasi masyarakat Klub Baca Perempuan (KBP) tanggap membaca siutasi dan tantangan serta menawarkan solusi.

KBP yang diprakarsai Nursyida Syam dan Lalu Badrul pada 2006 berusaha memberdayakan masyarakat melalui kegiatan membaca. KBP lantas mengembangkan wadah-wadah lain seperti Rumah Indonesia, Kanca (Kanaq Pecinta Baca), PAUD Anak Negeri yang inklusif dan remaja literasi yang didampingi Rumah KitaB atas dukungan the Ford Foundation.

KBP melakukan sejumlah penyesuaian dalam menghadapi pandemi. Pandemi memaksa KBP menutup kegiatan dan anak-anak dampingan di Kanca belajar dari rumah. KBP lantas menyesuaikan kemitraaan dengan Ford Foundation yang semula bertujuan untuk mengurangi angka perkawinan anak menjadi penyediaan kebutuhan pokok dan alat kesehatan. Kesepakatan dengan Rumah KitaB bantuan diberikan dalam tiga tahap. Juga, ada enam puskesmas mendapat bantuan Alat Perlindungan Diri (APD). Selain itu, Rumah KitaB membantu memberdayakan anggota KBP memproduksi masker untuk dibagikan pada kelompok rentan. Anak-anak dampingan lantas membantu pendataan dan distribusi bantuan.

Karena bantuan dinilai tidak berkelanjutan, KBP memulai program lumbung pangan dengan memanfaatkan sepetak tanah di sekitar sanggar. Hasilnya dibagikan pada anggota. Dengan bantuan We Lead, program lumbung pangan digarap lebih luas, sistematis, dan berkelanjutan. Program ini menginspirasi warga menanami tanah kosong di sekitar mereka. Lumbung ini juga menarik bantuan donatur dengan membeli di muka dan membagikannya ke warga. Media social juga berperan karena digunakan sebagai alat penyebaran laporan kegiatan untuk meningkatkan akuntabilitas program.

Sementara, anak-anak belajar bercocok tanam dan belajar mengelola kelompok untuk keberhasilan panen dan melawan hama. Kebun ini memberi manfaat 151 anggota kelompok da membelikan seragam bagi 30 orang anak PAUD. Program terus berlanjut setelah dukungan dari We Lead selesai pada Desember 2020. Setelah enam bulan, mulai ada diversifikasi dengan menambah tanaman rempah seperti sereh, temulawak, dan lainnya.

Pada Januari 2021, kegiatan belajar kembali dibuka dengan membatasi jumlah anak yang masuk dengan sistem bergilir, juga dengan penerapan protokol kesehatan. KBP menyiapkan tambahan lumbung pangan khusus tetap berlanjut untuk memberikan kegiatan bermanfaat bagi orangtua PAUD yang menunggu anak dan menjadi bagian integral kurikulum PAUD.

KitaB memandang  proses bersama Ida dan KBP dan PAUD Anak Negeri menjadi pembelajaran penting dalam melakukan pendampingan. Ini karena pemberdayaan yang demokratis mampu menguatkan mitra sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan dirinya. Ini juga menjadi pengingat tentang pentingnya  melibatkan pihak-pihak yang selama ini tidak terlihat; anak, remaja, perempuan dan kelompok minoritas.

Judul Buku: DEMOKRASI DAN PANDEMI
Bunga Rampai Pengetahuan Masyarakat Sipil di Indonesia
Diterbitkan oleh: Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara
ISBN 978-623-98039-0-2
© 2021. Dipublikasikan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC-BY-NC-SA 4.0).

Buku ini terbit atas inisiatif dan kerja sama yang telah dilakukan beberapa organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam CIVICA.

Bagikan:

Responses