Lansia, Gender, dan Covid-19: Catatan Dua Lansia

Penulis: Lies Marcoes (Rumah Kitab)

Bagi lansia yang masih aktif, di rumah saja karena Covid-19 dapat menjadikannya pribadi yang khawatir, sedih, nelangsa, dan kemudian dapat berakibat pada krisis diri. Khawatir yang amat sangat karena korban berjatuhan dan terasa semakin dekat, sedih dengan berita duka yang menimpa orang-orang terdekat, dan nelangsa karena segala rencana tak bisa terlaksana tapi juga tak jelas harus berbuat apa. Bagi yang masih berpasangan, problemnya lebih berat lagi.

Lansia perempuan tak dapat menghindar dari kewajiban sebagai istri untuk melayani pasangannya yang semula masih bisa ditinggalkan karena memiliki aktivitasnya sendiri. Belum lagi dari pihak keluarga, terutama anak, menantu, cucu, yang cenderung menjadi lebih protektif dan ketat mengawasi orang tua mereka yang telah lansia. Bila rumah tangga anaknya telah terpisah, banyak lansia hanya hidup berdua dengan pasangannya atau hidup sendiri. Pengawasan oleh anaknya dilakukan melalui berbagai cara, bahkan sampai memasang CCTV.

Hal yang paling sering adalah secara rutin menelepon atau WA, selain mengawasi melalui para asisten rumah tangga yang dapat dikontak setiap saat. Meski demikian, umumnya para lansia bisa mengikuti peraturan pemerintah dengan menaati stay at home, namun sebagai makhluk sosial, mereka membutuhkan komunikasi, sentuhan fisik, dan bercakap-cakap. Tanpa itu, mereka akan cepat sekali melemah, baik ingatan maupun gerak tubuhnya. Bagi lansia yang kesulitan ekonomi, kondisinya akan lebih buruk.

Lansia perempuan yang miskin berbeda situasinya dengan lansia lelaki yang juga miskin. Jika lansia lelaki masih punya istri, betapa pun miskinnya, mereka masih ada yang mengurus. Berbeda dengan lansia perempuan miskin, yang belum tentu mendapatkan nafkah dari suaminya yang sama-sama miskin. Karenanya, banyak dari mereka yang masih harus mencari nafkah sambil mengurus suami dan rumah tangganya. Jika di antara keduanya wafat, isu gender lain akan muncul. Sepeninggal suaminya, anak-anak biasanya segera meminta pembagian warisan. Jika masih ada rumah, akan segera dijual kemudian dibagikan sebagai warisan. Untuk selanjutnya, sang ibu hidup menumpang kepada salah satu anaknya, atau berpindah-pindah dengan alasan agar ada yang mengurus. Situasi ini sedikit berbeda jika si istri yang lebih dulu meninggal. Rumah tidak buru-buru dijual dan dibagi sepanjang ayahnya masih ada. Apalagi jika sang ayah menikah lagi dan membentuk rumah tangga baru.

Namun, jika lansia lelaki itu benar-benar miskin, tak punya pendapatan atau menumpang, kehidupannya akan jauh lebih sulit dibandingkan lansia perempuan miskin dalam situasi yang serupa. Penerimaan sosial kepada lansia perempuan sedikit lebih baik dibandingkan kepada lelaki miskin. Di luar itu semua, ketika menggolongkan lansia sebagai kelompok tidak produktif, sesungguhnya pemerintah telah menutup mata atas fakta sehari-hari yang sebaliknya. Banyak lansia perempuan tetap bekerja mencari nafkah dan tetap produktif. Di pasar-pasar tradisional, atau gang-gang tempat orang biasa hidup, lansia perempuan adalah bagian penting dari gerak dinamika warga. Setelah mereka dituntut untuk mematuhi protokol sebagai lansia, pemerintah tak bisa hanya memberikan panduan umum semacam RAN Kesehatan Lansia.

Dibutuhkan langkah-langkah nyata, bagaimana memberdayakan mereka. Hal ini harus dimulai dari perubahan anggapan tentang lansia: mereka bukan orang sakit, tapi juga tidak lagi muda. Hal yang dibutuhkan adalah daya dukung sosial ekonomi dan infrastruktur yang dapat memandirikan mereka.

Judul Buku: DEMOKRASI DAN PANDEMI
Bunga Rampai Pengetahuan Masyarakat Sipil di Indonesia
Diterbitkan oleh: Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara
ISBN 978-623-98039-0-2
© 2021. Dipublikasikan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC-BY-NC-SA 4.0).

Buku ini terbit atas inisiatif dan kerja sama yang telah dilakukan beberapa organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam CIVICA.

Bagikan:

Responses