Covid-19, Keberlanjutan Agenda Lingkungan Hidup, dan Sustainabilitas

Kehati LH Covid 19 Civica

One in A Century Health Crisis’, demikian kata WHO. Sementara IMF memberi judul laporan World Economic Outlook bulan Juni yang lalu: ‘A Crisis Like No Other’. Sejak WHO dan IMF berdiri, sebagai lembaga kesehatan dunia dan lembaga stabilitas keuangan dan moneter dunia, mereka memang belum pernah melihat krisis kesehatan dan krisis ekonomi sedahsyat saat ini.

Pertanyaannya bagi kita adalah, apakah masih ada ruang untuk bersuara dan terus mendorong agenda-agenda lingkungan dan sustainabilitas. Atau, ini bukanlah sesuatu yang pantas, ketika dunia berjuang mengatasi krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Sebagian mungkin berpendapat demikian. Bahkan, ada beberapa pihak yang mengambil kesempatan ini untuk sengaja meminggirkan isu-isu lingkungan untuk kepentingan oportunistik.

Namun, penggiat lingkungan percaya bahwa krisis pandemi Covid-19 ini justru akan menguatkan kesadaran dan komitmen warga dunia pada isu-isu lingkungan hidup dan sustainabilitas. Karena, meski sangat pahit, pandemi ini memberi pembelajaran yang sangat nyata dan berarti bagi kita semua.

Covid-19 dan Pembelajaran

Pembelajaran yang pertama adalah, jangan coba-coba melintasi batas dalam mengeksploitasi dan mengintervensi kapasitas dan keseimbangan alam. Keseimbangan yang telah terbangun selama ribuan atau mungkin jutaan tahun yang menjadi pondasi dasar kehidupan dan eksistensi manusia. Jangan melintasi batas dalam menginfiltrasi kehidupan alam liar sebagai bagian dari keseimbangan bumi, apalagi mengkonsumsi hewan liar secara sistematik, misalnya. Sebab, ini dapat meruntuhkan keseimbangan, merubuhkan benteng yang melindungi manusia dari mikroorganisma yang mematikan.

Yang kedua, ibarat film bioskop, pandemi corona adalah sebuah teaser, sebuah cuplikan 2-3 menit mengenai bencana yang dapat menimpa kita di masa yang akan datang. Namun, pertunjukan penuh 90 menit kelak akan hadir di depan kita — jika kita tidak berbuat sesuatu. Jika kita tidak mengubah gaya hidup kita, proses produksi dan pola konsumsi, yang mengumbar emisi gas rumah kaca ke atmosfer, yang membawa kehancuran pada keanekaragaman hayati di bumi.

Jika demikian, IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) menyatakan suhu bumi dapat naik hingga sebesar empat sampai lima derajat celcius. Jika demikian, IPBES (Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services) mengatakan akan ada satu juta species yang lenyap dari permukaan bumi.

Semuanya akan meluluh-lantakkan keseimbangan bumi. Artinya, pertunjukan bencana-bencana masif kelak akan hadir meneror penduduk bumi. Namun, krisis Covid-19 tidak hanya memberikan pembelajaran tentang neraka yang akan menanti kita jika kita terus berbuat dosa pada planet bumi. Pandemi ini juga menghadirkan teaser tentang surga kehidupan di dunia yang menanti jika kita berhenti berbuat dosa pada alam dan segenap makhluk ciptaan Tuhan.

Lockdown yang sempat diterapkan di Jakarta tentu bukanlah sesuatu yang kita inginkan. Tapi, sekonyong-konyong langit Jakarta bersinar biru bening, sebening udara segar yang kita hirup. Tiba-tiba, kita mendengar kicauan burung di jalanan Jakarta, kita mendengar suara gemericik air di Bundaran Senayan yang selama ini tenggelam entah kemana di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Kita ternyata punya pilihan: a better and beautiful world to live in.

Covid-19 dan Tonggak Sejarah Baru Renewable Energy

Terlepas dari pembelajaran ini, apakah benar warga dunia tidak meminggirkan isu-isu lingkungan selama pandemi ini? IEA (International Energy Agency) dalam Global Energy Review yang terakhir mengungkapkan konsumsi energi anjlok secara drastis selama pandemi ini, dan diperkirakan berlanjut hingga akhir 2020. Konsumsi energi yang berasal dari batu bara dan minyak mengalami penurunan yang paling dahsyat. Gas alam dan nuklir juga mengalami penurunan. Satu-satunya sumber energi yang masih tumbuh dengan solid adalah renewable energy, sumber energi terbarukan dan bersih, seperti energi surya atau angin.

Kehati_Reaksi Investor Dunia Terhadap Krisis Covid-19

Negara-negara di Eropa seperti Jerman, Inggris, dan Spanyol, sejak pandemi Covid-19 mencatat tonggak sejarah baru. Separuh atau lebih konsumsi energi mereka sekarang berasal dari sumber energi bersih dan terbarukan. Bahkan di India, energi bersih dan terbarukan kini mencakup 30% dari konsumsi energi mereka.

Barangkali, yang paling monumental adalah apa yang terjadi di AS. Negara adidaya ini dikenal kurang “bertanggung jawab” pada isu-isu lingkungan, terutama di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Trump dengan arogan mengeluarkan berbagai pernyataan dan kebijakan yang terang-terangan anti lingkungan, termasuk bersumpah membangkitkan kembali industri batu bara di AS.

Namun, selama hampir empat tahun dia berkuasa konsumsi batu bara terus turun dengan drastis. Akhirnya, pandemi Covid-19 put the nail in the coffin, ketika akhirnya konsumsi energi terbarukan di AS melampaui sumber energi batubara. Akal sehat, ilmu pengetahuan, dan aspirasi untuk planet bumi yang lebih baik bisa mengalahkan pemimpin negara yang paling berkuasa sekalipun.

Reaksi Investor Dunia Terhadap Krisis Covid-19

Sustainable investing atau di pasar modal lebih populer dengan sebutan ESG (environmental, social, governance) tumbuh sangat pesat belakangan ini. Investasi ESG adalah investasi yang bertanggung jawab, yang juga mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial, selain aspek finansial tentunya.

Pertanyaannya, di saat krisis ekonomi karena Covid-19 saat ini, apakah para investor dunia masih peduli pada isu lingkungan dan sosial?

The Financial Times mengatakan, pada kuartal I-2020 di tengah krisis Covid-19, dana berhamburan keluar dari berbagai produk investasi (reksadana) di Eropa, mencapai 148 miliar euro. Namun, hal yang sebaliknya terjadi pada reksadana ESG, dana yang mengalir masuk 30 miliar euro. Tren ini terus berlanjut pada bulan April 2020, ketika 12 miliar euro dana mengalir ke produk investasi ESG.

Fenomena serupa terjadi di AS. Pada kuartal I-2020, produk investasi ESG justru mencatat rekor baru dalam hal inflow.

Semakin banyaknya investor dan manajer investasi mengadopsi prinsip ESG dalam keputusan investasi mereka, tidak hanya merefleksikan prinsip sustainabilitas semakin diadopsi luas, tetapi investasi dengan mempertimbangkan aspek ESG secara rata-rata dapat memberikan keuntungan finansial yang lebih baik.

Hal serupa, terbukti lagi selama pandemi Covid-19. Ketika pasar bergejolak, produk investasi ESG cenderung memiliki kinerja lebih bagus. Demikian juga di Indonesia, Indeks ESG SRI KEHATI menunjukkan kinerja lebih bagus daripada indeks LQ45 atau IDX30, misalnya.

Perilaku Konsumen Merespon Covid-19

Konsultan terkemuka dunia, McKinsey, melakukan survei di Eropa bulan April yang lalu, ketika pandemi Covid-19 mencapai puncaknya di benua tersebut. Pandemi ternyata menggugah konsumen untuk lebih berkomitmen menjaga lingkungan hidup.

Survei tersebut mengatakan, 57% konsumen mengubah gaya hidup secara signifikan untuk menjadi lebih ramah lingkungan. Kemudian, 67% dari konsumen mengatakan mereka berusaha mendaur ulang dari produk yang mereka beli. Dan, 61% mengatakan mereka memilih produk dengan kemasan yang ramah lingkungan.

Sebuah fenomena konsumsi yang relatif baru namun tumbuh cukup pesat belakangan ini adalah “sustainable meat”, yaitu plant-based meat dan culture meat. Plant-based meat sepenuhnya terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Namun dengan perkembangan teknologi, bentuk, touch, dan rasanya hampir tidak bisa bisa dibedakan dengan daging asli. Cultured meat adalah daging yang berasal dengan mengembangbiakkan sel-sel daging di laboratorium atau pabrik, bukan dengan mengembangbiakkan ternak.

Namun saat ini harga sustainable meat masih lebih mahal dari daging biasa. Ketika krisis ekonomi melanda, banyak pihak memperkirakan konsumsi sustainable meat bakal berkurang. Namun, kenyataan berkata sebaliknya. AC Nielsen mengatakan selama puncak pandemi di AS pada Maret sampai April 2020, penjualan plant-based meat justru melonjak tajam sebesar 264%, dan tumbuh jauh di atas pertumbuhan konsumsi daging biasa.

Konsultan AT Kearney memperkirakan 15 hingga 20 tahun dari sekarang, sebagian besar daging yang dikonsumsi warga dunia bukanlah berasal dari ternak yang dikembangbiakkan dan kemudian disembelih, tetapi dari plant-based meat dan cultured meat. Plant-based meat dan cultured meat dianggap merupakan solusi bagi konsumsi daging yang lebih ramah lingkungan.

Peternakan memang memberikan beban yang cukup besar bagi bumi. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengatakan peternakan bertanggung jawab atas 20% emisi gas rumah kaca, menggunakan 30% dari lahan yang ada di bumi dan 8% dari konsumsi air. Belum lagi, peternakan bagi banyak pihak dianggap sebuah proses yang tidak etis, mengembangbiakkan makhluk hidup untuk sekadar membunuhnya.

Kehati_Panel Surya
Ilustrasi panel surya. (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)

Pandemi Covid-19 ini juga menjadi momentum bagi perusahaan-perusahaan kelas dunia untuk menunjukkan komitmen mereka bagi agenda-agenda sustainabilitas khususnya terkait dengan perubahan iklim. Dua perusahaan terbesar dunia, Apple dan Microsoft, mengumumkan komitmen mereka untuk menetralkan emisi karbon perusahaan dan segenap supply chain mereka paling lambat sepuluh tahun dari sekarang. Microsoft bahkan mengalokasikan US$ 1 miliar khusus berinvestasi pada usaha-usaha yang berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim dan isu-isu lingkungan lainnya.

Blackrock, manajer investasi terbesar dunia dan dianggap saat ini sebagai perusahaan keuangan dunia yang paling berpengaruh, tahun ini juga mengumumkan berbagai komitmen terkait dengan investasi yang bertanggung jawab.

Yang paling menarik mungkin pengumuman baru-baru ini oleh BP (British Petroleum), salah satu perusahaan minyak dan gas terbesar dunia. BP menyatakan akan memangkas kapasitas produksi minyak dan gas mereka secara drastis, sebesar 40%, dalam sepuluh tahun mendatang. Dan, pada saat yang bersamaan akan meningkatkan kapasitas renewable energy mereka sebesar 20 kali lipat! Pengumuman ini disambut pasar dengan positif, harga saham BP melesat 8% pada hari itu.

Pandemi ini memang berdampak pada agenda-agenda sustainabilitas. Setidak-tidaknya menggugah dan mendorong warga dunia, termasuk pelaku ekonomi untuk mengadopsi agenda-agenda sustainabilitas untuk menjamin keberlanjutan bumi bagi generasi mendatang. Peradaban kemanusiaan terus bergerak maju, krisis Covid-19 mengakselerasinya lebih jauh.

Kelak, gaya hidup yang ramah lingkungan dan menjamin keberlanjutan kehidupan di bumi akan menjadi mainstream dan norma-norma baru. Kemudian, pihak yang menggunakan pandemi Covid-19 untuk mengingkari hak publik dan generasi mendatang, serta keberlangsungan bumi akan tersingkir dan membayar mahal atas kejahatan itu, di dunia dan akhirat. (Riki Frindos, Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI)

Sumber: https://www.kehati.or.id/covid19dansustainabilitas/

Bagikan:

Responses