“KOMPAS TB” Akselerasi Eliminasi TBC 2030 Di Kota Medan

Medan | Naiknya peringkat kasus Tuberkulosis (TBC) di indonesia, jadi pembahasan dalam pertemuan inisiasi Komunitas Penyintas TBC, dihotel Putra Mulia Medan, Selasa (22/11/2022).

Pertemuan yang diinisiasi Yayasan Peduli Kemandirian Masyarakat (Yapemmas), dengan dukungan Program Accelerate Penabulu Foundatin, diadakan guna membahas dan mengajak seluruh elemen agar tercapainya eliminasi TBC tahun 2030 jadi PR bersama.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah peranan bagi penyintas TBC yang sangat dibutuhkan di masyarakat. Peran itu tidak hanya mengedukasi dan mensosialisasi pengobatan harus sampai tuntas /sembuh, bukan sampai habis paketnya. Tetapi ada juga peran lain yang bisa dilakukan antara lain memberikan dukungan psikososial terhadap pasien yang sedang menjalani terapi, juga kepada eks pasien yang terdampak pada perekonomian keluarga.

Berdasarkan kondisi tersebut maka, Yapemmas dengan dukungan dari Program Accelerate Penabulu Foundatin, menginisiasi pembentukan Komunitas Penyintas TB dengan singkatan “KOMPAS TB”.

Menurut Sri Amanah selaku direktur Yapemmas, dengan lebih banyak melakukan edukasi dan sosialisasi juga dapat membantu pasien TBC atau pun eks pasien TBC. Diperlukan juga penguatan terkait permasalahan yang ada seperti, pengobatan, sosial, ekonomi, dan memberikan perhatian pada kebutuhan nutrisi bagi pasien maupun eks pasien dari keluarga tidak mampu. Karena tidak hanya obat, pasien TBC juga butuh nutrisi agar pengobatan tuntas, katanya.

“Ia berharap, dengan adanya komunitas ini jadi salah satu pendorong untuk terbitnya regulasi terkait penanggulangan TBC di Kota Medan”, ungkapnya.

Sri Amanah juga menjelaskan, Berdasarkan dari pengamatan Yapemmas, masih ada pasien TBC pada saat pengobatan tidak diberikan pengetahuan dan pemahaman atau edukasi yang detail oleh pihak layanan kesehatan.

Selain itu, sambungnya, sekarang ini tidak semua pasien memiliki PMO (Pengawas Menelan Obat) pada saat pengobatan. Sehingga berdampak pada berkurangnya kasus pasien mangkir/putus obat.

”Dampak dari kurangnya edukasi dan pemahaman pasien dalam pengobatan TBC berakibat terjadinya kasus putus obat yang berakibat menjadi TBC RO (Resistan Obat). Dengan Kondisi tersebut membuat Program penanggulangan TBC menjadi terhambat. Apalagi di Kota Medan sendiri, dari target 18 ribu kasus TBC, hingga kini yang ditemukan baru 6 ribuan. Sehingga penularan kasus bisa semakin meluas. dikarenakan, 1 (satu) orang penderita TBC, bisa menularkan 10-20 orang”, tandas nya.

Sumbangsih penyintas sangat diperlukan agar pendampingan ke pasien dapat menjadi lebih baik. Dan didukung peran dari multisektor dalam penanganan ini. Apalagi dana yang dibutuhkan cukup besar untuk pengobatan TBC ini, terutama pada pasien resisten obat, tutup Sri Amanah (YAPEMMAS).

Menambahkan menurut seorang penyintas TBC Kris Nainggolan menuturkan, untuk pengobatan TBC RO ini, biayanya minimal Rp 200 juta hingga sembuh. Tidak langsung dianggap sembuh total, pasca penyembuhan pasien juga akan terus diawasi.

“Kalau sembuh pun nanti, tetap rumah sakit melakukan pengawasan perkembangan”, ungkapnya.

Bagikan:

Responses