Perjuangan dan Harapan Bu Ramil untuk Eliminasi TBC-HIV di Nusa Tenggara Timur

Dokumentasi PR Komunitas ELiminasi TBC Penabulu-STPI

Tuberkulosis (TBC) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyakit yang saling terkait. Jika seseorang yang sebelumnya memiliki bakteri TBC tetapi kemudian terkena atau tertular HIV, maka HIV akan menurunkan daya tahan tubuhnya dan kuman TBC yang ada sebelumnya pun akan aktif, sehingga bisa menyebabkan penyakit TBC. Selain itu, seseorang yang sebelumnya memiliki HIV di dalam tubuhnya juga akan rentan tertular berbagai penyakit menular termasuk TBC karena daya tahan tubuh yang rendah.

Di Indonesia, berkaitan dengan penyakit TBC-HIV, Kementerian Kesehatan RI mengumumkan bahwa sepanjang tahun 2021, telah terjadi kasus TBC-HIV dengan estimasi jumlah ODHIV yang menderita TBC sebanyak 18.000 kasus dan jumlah kematiannya yang menembus 4.800 jiwa dengan angka tersebut, tentunya penanganan dan penjangkauan kepada pasien TBC-HIV yang optimal sangat diperlukan untuk meminimalisir angka estimasi kasus dan angka kematian akibat penyakit tersebut. Sehingga dengan kondisi yang terjadi saat ini, (Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (PERDHAKI) selaku sub-recipient (SR) dari Konsorsium Penabulu STPI berinisiatif untuk mengkolaborasikan program TBC dengan HIV melalui program TB Care di wilayah cakupan mereka yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT). Program TB-HIV Care yang dijalankan melibatkan kader TBC yang berperan memastikan pasien TBC yang ditemukan dan didampinginya untuk melakukan tes HIV di puskesmas.

Ramil Isdak Tomasui, atau wanita yang terkenal dengan nama Ibu Ramil merupakan salah satu kader yang dipercayai oleh PERDHAKI NTT untuk melakukan tugas mulia sebagai kader pada program TB Care tersebut. Melalui panggilan hatinya, Ibu dua anak ini mempunyai niat yang sangat tulus dari hati untuk mendampingi dan mengunjungi pasien TBC demi memutuskan rantai penularan TBC di masyarakat. Menurutnya, menjadi kader merupakan panggilan Tuhan yang ia rasakan agar mendapatkan berkat dalam kehidupannya. “Saya senang bisa mengurus atau membantu orang sakit untuk memutuskan kuman TBC. Karena dengan menjalankan tugas kemanusiaan ini, saya juga mendapatkan berkat dalam kehidupan saya dan ini adalah panggilan Tuhan buat saya,” tuturnya.

Setiap harinya, Ibu Ramil aktif melakukan tugasnya sebagai kader dengan pergi mengunjungi pasien serta mencari suspek untuk diperiksa. Selain menjadi seorang kader TBC, Ibu Ramil juga mahir membuat kue yang kemudian dititipkan di kios-kios dekat rumahnya. Saat melakukan penjangkauan kasus, Ibu Ramil rela menempuh jarak yang sangat jauh dari rumahnya demi mendapatkan suspek para pasien TBC. Jalanan yang sepi serta medan yang rusak tidak menyurutkan semangatnya untuk menjalankan misi kemanusiaan tersebut. Derap langkah yang ia lakukan pun semata-mata dilakukan demi mengurus dan membantu orang dengan sakit TBC agar dapat terjangkau dan didampingi hingga sembuh. Rasa lelah yang Ibu Ramli rasa juga seketika hilang dengan rasa senang yang ia dapati ketika bertemu dengan para pasien TBC. “Ada momen tertentu dimana saya merasa bersyukur sudah mendapat ilmu tentang TBC dan bisa mengurus orang sakit dengan TBC. Saya bahkan sangat senang ketika saya bertemu dan membantu mereka hingga sembuh,” ucapnya. Semua itu rela ia lakukan demi untuk memutuskan penyakit akibat bakteri mycobacterium tuberculosis ini.

Hambatan demi hambatan kerap Ibu Ramil hadapi ketika melakukan penjangkauan kepada masyarakat. Terkadang, beberapa masyarakat tidak berkenan untuk menjawab secara jujur tentang kondisi yang dialaminya. “Ada orang-orang selalu jujur terhadap saya tetapi ada juga yang tidak mau jujur bahwa mereka itu sakit, tapi saya berusaha bagaimana caranya supaya mereka bisa terbuka dengan saya,” katanya. Namun, hal tersebut dapat diatasi oleh Ibu Ramil dengan terus menerus memberikan mereka edukasi terkait dengan penyakit tersebut. Selain itu, adanya pandemi juga kerap dijadikan alasan oleh masyarakat agar tidak dapat dikunjungi oleh para kader kesehatan terutama TBC. Tetapi Ibu Ramil tidak menyerah dan selalu melakukan pendekatan kepada masyarakat agar kehadirannya dipercaya oleh masyarakat.

Dalam eliminasi TBC-HIV, Ibu Ramil memiliki peran yang sangat penting dengan menjadi pendamping pasien dengan penyakit tersebut. Sebagai pendamping pasien TBC-HIV, ia kerap membantu pasien mengambil obat di Puskesmas karena kondisi pasien yang tidak bisa berpergian. Agar pasien juga dapat segera sembuh, Ibu Ramil juga tak henti-hentinya untuk selalu mengingatkan pasien TBC-HIV agar selalu minum obat tanpa putus. “Saya usahakan untuk selalu ada bagi mereka, karena bagi saya tugas ini adalah tanggungjawab yang harus saya lakukan,” tambahnya.

Dokumentasi PR Komunitas ELiminasi TBC Penabulu-STPI

Selain mendampingi pasien TBC-HIV, Ibu Ramil juga kerap memberikan penyuluhan tentang TBC-HIV ketika melakukan kunjungan kepada masyarakat. Melalui media komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang telah diberikan oleh PERDHAKI NTT, Ibu Ramil dengan semangat terus menularkan ilmunya kepada masyarakat di wilayah jangkauannya agar dapat memahami lebih tentang penyakit TBC dan menghilangkan stigma negatif di masyarakat terhadap penyakit tersebut.

Dengan usaha-usaha yang telah Ibu Ramil kerahkan, dalam tahun 2021, Ibu Ramil berhasil menemukan 2 pasien TBC-HIV melalui jangkauan yang ia jalankan. Selain itu, bekerja sama dengan kader-kader di wilayah cakupannya, Ibu Ramil berhasil menjangkau 15 pasien TBC yang mana pasien-pasien tersebut juga telah di skrining dan dilakukan pemeriksaan HIV untuk mengetahui lebih dalam tentang kondisi pasien tersebut. Dalam pendampingan pasien, Ibu Ramil juga berhasil mendampingi 2 pasien TBC-HIV hingga sembuh, dengan 1 pasien yang masih dalam masa pengobatan.

Dalam pelaksanaan pendampingan pasien TBC-HIV, PERDHAKI NTT memberikan kepercayaan penuh kepada kader untuk mendampingi serta memberikan edukasi seputar TBC-HIV kepada masyarakat. Selain itu, berkolaborasi dengan Puskesmas setempat, PERDHAKI NTT juga membuka jembatan antara Puskesmas dengan para Kader TBC untuk memeriksa pasien TBC yang didampingi kader agar melakukan tes HIV untuk memastikan penanganan seperti apa yang diberikan kepada pasien TBC tersebut. “Kami diberikan kepercayaan penuh ya dari PERDHAKI NTT untuk menjalankan tugas ini, berbekal dengan ilmu yang kami punya, kami juga akan terus menjalankan tugas ini dengan baik,’ ucap Ibu Ramil.

Ibu Ramil memiliki harapan bahwa pemeriksaan TBC-HIV dapat segera diterapkan di seluruh wilayah Indonesia. Pasalnya dalam melakukan pengobatan TBC, penting untuk memastikan status HIV pasien TBC. Sebab dengan memastikan tidak adanya virus ini didalam tubuh pasien TBC, maka pengobatan pun dapat berjalan efektif membunuh kuman TBC. Jika diketahui adanya HIV didalam tubuh pasien TBC, maka hal tersebut dapat berpengaruh pada menurunnya daya tahan tubuh si pasien, sehingga perlu ditambahkan pengobatan lanjutan untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien dan pengobatan TBC pun dapat berjalan efektif.


Cerita ini dikembangkan dari SR Nusa Tenggara Timur
Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)
Editor: Permata Silitonga

Bagikan:

Responses