The Power of Alliance: Menggalang Kekuatan Aliansi Mitra CEAThe Power of Alliance: Menggalang Kekuatan Aliansi Mitra CEA

Ubud (30/11/2019) – Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, mitra CEA telah menghasilkan beragam produk pengetahuan maupun kerja kolaborasi multi pihak yang melibatkan Pemerintah – Sektor Swasta – Pekerja – Smallholder. Secara umum, implementasi CEA bersinergi dengan perusahaan dan Pemerintah Indonesia melalui lobi dan advokasi yang dilakukan oleh lembaga mitra CEA di Indonesia. Lembaga mitra CEA Indonesia sudah berupaya memberikan sumbangan pemikiran serta masukan terhadap perbaikan standar operasional prosedur penyelenggaraan bisnis serta kebijakan di tingkat kabupaten hingga nasional.

Dua pilar utama CEA yakni Pathway 3 (Smallholder Empowerment) dan Pathway 4 (Responsible Business), dijalankan oleh aliansi masyarakat sipil, serikat petani, asosiasi bisnis dan tokoh tokoh birokrasi. Lobi kepada stakeholder komoditas sudah dilakukan melalui Pathway 3 dan Pathway 4 dengan menghasilkan beragam kesepakatan, kajian, maupun panduan yang bertujuan untuk memberi jaminan keamanan pangan bagi konsumen sebagai akhir dari rantai nilai komoditas dan memperkuat para produsen kecil dalam rantai pasar. Menjelang berakhirnya program CEA di tahun 2020, ICCO merasa perlu menyelenggarakan pertemuan dengan seluruh partner tematik.

Pada 25-28 November 2019 di Ubud, Bali, perwakilan dari mitra program CEA bertemu untuk membicarakan bagaimana mengembangkan arah dan kelanjutan aliansi yang secara programatik akan berakhir pada 2020. Secara umum, ada beragam capaian dan tantangan. Ketidaksamaan memulai program, keleluasaan untuk mengembangkan aktivitas dan karakter khas dari tiap organisasi menjadi beberapa faktor pendorongnya. Diskusi terbuka antara KPSHK, Penabulu, Konsil LSM, ELSAM, KRKP, Hukatan-CNV, SPKS, PKPA dan ICCO bertujuan untuk menyamakan pandangan terhadap arus dan konteks eksternal, baik lokal, nasional maupun global yang akan berpengaruh kuat terhadap ide dan jalannya program maupun pasca program.

Di sela-sela waktu diskusi, Penabulu sebagai tuan rumah kegiatan mengajak para mitra berkunjung ke Kopernik untuk berdiskusi mengenai pengembangan inovasi. Hal ini merupakan salah satu bagian reflektif agar mitra CEA mampu menghasilkan produk inovasi yang dapat digunakan oleh masyarakat luas, terlebih mitra CEA bersinggungan dengan banyak stakeholder yang tentunya memiliki harapan besar terhadap dampak program dalam aspek penerapan bisnis yang berperspektif HAM.

“Yang dilakukan Kopernik seperti tamparan untuk saya. Kita berbicara hal besar pagi-pagi tapi tidak terlaksana dengan baik. Begitu ke Kopernik ternyata hal-hal kecil itu luput kita pikirkan. Kopernik memiliki pandangan yang berbeda dari sudut pandang kita, mereka melakukan eksperimen dan inovasi berdasarkan kebutuhan dengan masyarakat,” ujar Lily Batara, Manajer Program KRKP.

Difasilitasi oleh Rival Ahmad, pertemuan selama empat hari berlangsung secara dinamis. Implementasi program yang dilaksanakan oleh para mitra semakin menampakkan hasil yang dapat diindera. Bahkan untuk menjalankan program secara efektif dan mencapai hasil yang lebih optimal, para mitra menysusun rencana implementasi bersama lintas pilar. Peserta menyatakan bahwa pertemuan kali ini mampu membangkitkan antusiasme, karena ada banyak informasi baru yang diperoleh peserta dari peserta lain, terutama kedalaman dan perspektif dalam menjalankan program. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa pertemuan yang reguler dan alurnya tertata dengan baik akan membantu mitra dalam melakukan refleksi program dan mengembangkan kemungkinan berkolaborasi. (NP)

Ubud (30/11/2019) – Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, mitra CEA telah menghasilkan beragam produk pengetahuan maupun kerja kolaborasi multi pihak yang melibatkan Pemerintah – Sektor Swasta – Pekerja – Smallholder. Secara umum, implementasi CEA bersinergi dengan perusahaan dan Pemerintah Indonesia melalui lobi dan advokasi yang dilakukan oleh lembaga mitra CEA di Indonesia. Lembaga mitra CEA Indonesia sudah berupaya memberikan sumbangan pemikiran serta masukan terhadap perbaikan standar operasional prosedur penyelenggaraan bisnis serta kebijakan di tingkat kabupaten hingga nasional.

Dua pilar utama CEA yakni Pathway 3 (Smallholder Empowerment) dan Pathway 4 (Responsible Business), dijalankan oleh aliansi masyarakat sipil, serikat petani, asosiasi bisnis dan tokoh tokoh birokrasi. Lobi kepada stakeholder komoditas sudah dilakukan melalui Pathway 3 dan Pathway 4 dengan menghasilkan beragam kesepakatan, kajian, maupun panduan yang bertujuan untuk memberi jaminan keamanan pangan bagi konsumen sebagai akhir dari rantai nilai komoditas dan memperkuat para produsen kecil dalam rantai pasar. Menjelang berakhirnya program CEA di tahun 2020, ICCO merasa perlu menyelenggarakan pertemuan dengan seluruh partner tematik.

Pada 25-28 November 2019 di Ubud, Bali, perwakilan dari mitra program CEA bertemu untuk membicarakan bagaimana mengembangkan arah dan kelanjutan aliansi yang secara programatik akan berakhir pada 2020. Secara umum, ada beragam capaian dan tantangan. Ketidaksamaan memulai program, keleluasaan untuk mengembangkan aktivitas dan karakter khas dari tiap organisasi menjadi beberapa faktor pendorongnya. Diskusi terbuka antara KPSHK, Penabulu, Konsil LSM, ELSAM, KRKP, Hukatan-CNV, SPKS, PKPA dan ICCO bertujuan untuk menyamakan pandangan terhadap arus dan konteks eksternal, baik lokal, nasional maupun global yang akan berpengaruh kuat terhadap ide dan jalannya program maupun pasca program.

Di sela-sela waktu diskusi, Penabulu sebagai tuan rumah kegiatan mengajak para mitra berkunjung ke Kopernik untuk berdiskusi mengenai pengembangan inovasi. Hal ini merupakan salah satu bagian reflektif agar mitra CEA mampu menghasilkan produk inovasi yang dapat digunakan oleh masyarakat luas, terlebih mitra CEA bersinggungan dengan banyak stakeholder yang tentunya memiliki harapan besar terhadap dampak program dalam aspek penerapan bisnis yang berperspektif HAM.

“Yang dilakukan Kopernik seperti tamparan untuk saya. Kita berbicara hal besar pagi-pagi tapi tidak terlaksana dengan baik. Begitu ke Kopernik ternyata hal-hal kecil itu luput kita pikirkan. Kopernik memiliki pandangan yang berbeda dari sudut pandang kita, mereka melakukan eksperimen dan inovasi berdasarkan kebutuhan dengan masyarakat,” ujar Lily Batara, Manajer Program KRKP.

Difasilitasi oleh Rival Ahmad, pertemuan selama empat hari berlangsung secara dinamis. Implementasi program yang dilaksanakan oleh para mitra semakin menampakkan hasil yang dapat diindera. Bahkan untuk menjalankan program secara efektif dan mencapai hasil yang lebih optimal, para mitra menysusun rencana implementasi bersama lintas pilar. Peserta menyatakan bahwa pertemuan kali ini mampu membangkitkan antusiasme, karena ada banyak informasi baru yang diperoleh peserta dari peserta lain, terutama kedalaman dan perspektif dalam menjalankan program. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa pertemuan yang reguler dan alurnya tertata dengan baik akan membantu mitra dalam melakukan refleksi program dan mengembangkan kemungkinan berkolaborasi. (NP)

Bagikan:

Responses