Jurnalisme Warga, Ujung Tombak Perubahan

Jurnalisme Warga PPMN civica

Jurnalisme Warga PPMN civicaRony Hisage menghempaskan tubuhnya dikursi mobil. Gurat lelah diwajahnya. Sekaligus keringatnya membasahi kening, matahari sangat terik di Wamena. “Ah, betapa sulitnya mencari narasumber di Wamena ini, “keluhnya.

Padahal dia harus mewawancarai narasumber untuk program talkshow di RRI Wamena. Lantas Rony membuat kalkulasi angka 30 persen dari semua respon Pemerintah Daerah Jayawijaya atas laporan jurnalis warga.

Untuk menambal jalan-jalan kota Wamena yang rusak saja, prosesnya lama sekali. Warga melakukan aksi menggalang dana Rp1.000 dan jurnalis warga membuat laporan di RRI, baru Dinas Pekerjaan Umum (PU) menanggapi dengan menambal lubang jalan sementara dengan semen, keesokan harinya.

Tidak lama, jalan aspal kembali berlubang dan rusak. Rony menunjuk lubang yang menganga. Sedangkan disampingnya, berdiri SPBU megah milik penguasa nomor 1 di Wamena. “Siapa lagi, kalau bukan bisnis Bupati, “katanya.

Jangkauan RRI Wamena terdengar hingga pelosok di kabupaten Tolikara dan Lany Jaya, kedua wilayah masih di Provinsi Papua. Meski pemerintah daerah melalui website resmi, mengatakan perbaikan pelayanan publik terus dilakukan. Tapi masyarakat Wamena tidak merasakan kemajuannya. Jurnalis warga yang menjadi ujung tombak dalam memberikan informasi yang berbasis fakta.

Seringkali warga secara mandiri menyelesaikan persoalan lingkungannya seperti saat banjir merusak rumah-rumah di desa Silamik. Desa menyiapkan dana sebesar Rp50 juta dan harus menggunakan alat-alat berat untuk membersihkan puing-puing. “Warga justru senang dengan swadaya, “ujar Rony.

Bahkan masyarakat bersama jurnalis warga membentuk sebuah forum bersama ketika BBM langka. Setelah diberitakan, stok BBM tersedia. Laporan jurnalisme warga seperti magnet yang dapat menarik jarum-jarum. Persoalan insfrastruktur memang menjadi perhatian jurnalis warga dari listrik padam, jembatan ambruk dan lainnya.

Berkat kecepatan jurnalis warga menyiarkan bencana alam di distrik Musafak, karena kerugian warga sangat besar. Ternak babi banyak yang mati ditelan banjir besar. Setelah laporan jurnalis warga di RRI, Kepala Dinas Peternakan datang langsung kesana membantu warga yang kesulitan.

Kolaborasi jurnalisme warga dan RRI sangat penting bagi masyarakat di pelosok-pelosok yang jauh di pegunungan. Sebab sebagian masyarakat Jayawijaya tidak dapat membaca dan menulis. Radio adalah sarana penghubung yang strategis.

Menjadi jurnalis warga lebih bebas melaporkan beragam isu dan persoalan dibanding jurnalis media mainstream. Meski keduanya sering lakukan kerjasama. Justru bermula sebagai jurnalis warga, Elisa Sekenyap benar-benar menekuni jurnalistik sebagai karier profesionalnya. Kini, dia menjadi jurnalis SuaraPapua.com.

Sumber: https://ppmn.or.id/jurnalisme-warga-ujung-tombak-perubahan/

Bagikan:

Responses